Senin, 23 Juni 2014

Seminggu Berlalu

Waktu itu aku memberanikan diri untuk mengirimimu sebuah pesan singkat yang berisikan permintaanku kepadamu agar kamu datang ke rumahku. Malam semakin larut, air mata semakin deras membanjiri bantal, mata semakin sipit, dan kamu pun belum membalas pesan singkatku.

Besok kamu akan pergi meninggalkanku sendiri di kota ini, entah besok pagi , siang ataupun malam. Aku takut menanyakan, aku takut hatiku semakin sakit. Besok kamu akan pergi untuk berlibur, sementara aku, dengan semua pengorbananku untuk dirimu, aku rela menolak tiket liburan untuk menunggu harimu.

21 Juni. Ya, hari yang sangat spesial bagimu, juga bagiku. Hari yang telah kupersiapkan dari sebulan yang lalu. Bahkan lebih lama dari itu. Semua sudah tersusun rapi sejak malam itu. Mulai dari kue tart, waktu dan tempat memberikanmu surprice, dll. Pokoknya semua sudah tersusun dengan sangat rapi. Dengan tulus aku menyusunnya. Tapi malam itu, pesan singkat yang kamu kirimkan padaku 5 menit yang lalu begitu cepat menghancurkan semuanya. Rasanya seolah-olah kamu yang menghancurkan semua rencana indahku untukmu. Mungkin kamu tak suka akan semuanya, tapi kamu tak tahu akan rencana itu.

Kamu bilang kamu tidak akan pergi liburan kemanapun, kamu hanya ingin berada di kota ini. Tapi malam itu semua perkataanmu yang telah memberikanku harapan yang begitu besar, seakan-akan begitu ringan dibawa oleh angin yang bertiup kencang pada malam itu. Mungkin angin itu berusaha untuk membawa semua rencana indahku yang telah kau hancurkan, namun rencana itu sudah aku kemas dengan kemasan yang begitu istimewa yang membuatnya sulit untuk diterbangkan dengan begitu mudah. Di dalamnya juga berisikan orang-orang yang istimewa. Aku sudah mengadakan janji dengan adik-adikmu, kakakmu, juga sahabat-sahabatku yang begitu antusias membantuku membuat semua rencana besar ini.

Aku berusaha tegar menghadapi semua yang kau hadapkan padaku. Aku membuka facebook. Mencoba meluapkan semua amarah dan kekecewaanku lewat status yang ku tuliskan. Aku telah menuliskan lebih dari 3 status, tetapi kenapa amarah dan kekecewaanku belum hilang juga? Aku meninggalkan akun facebooku dalam keadaan on untuk mengambil tisue di luar kamar. Ketika kembali, aku melihat ada 1 pesan baru di facebooku, setelah ku buka ternyata berasal dari adikmu. Adikmu kembali memberitahukan padaku jikalau dirimu akan pergi meninggalkan kami semua untuk berlibur. Meninggalkan semua rencana indah kami.

Aku masih berusaha untuk tegar. Tak usah mempedulikan pesan singkatku yang tidak dibalas olehmu. Sekitar 90 menit kemudian kamu membalas pesan singkatku yang berisikan bahwa kamu ada di depan gerbang rumahku. Aku takut kamu melihat mataku yang sipit karena telah capek menangis. Aku takut kau menganggapku terlalu lemah, harus menangis karena hal sekecil itu. Mungkin menurutmu kecil, tapi dengan hal kecil itu semua rencana indahku kau hancurkan. Aku menyuruhmu untuk pulang. Dengan melawan harapan terbesar dalam hati, yaitu ingin bertemu denganmu. Aku menarik napas sedalam mungkin, dan oke fix aku harus turun ke bawah dan bertemu denganmu. Dengan perasaan yang bercampur aduk, antara senang bertemu denganmu dan sedih harus berpisah pada malam ini.

Di depan gerbang hitam yang agak tinggi kita bertemu pada malam itu. Aku tak kuat, aku tak sanggup menahan air mata yang memenuhi bola mata ini. Pertemuan di dua sisi itu sangat mengesankan. Kamu di luar pagar, dan aku ada di dalam. Ku kira kamu akan datang dengan wajah yang sangat bahagia. Ternyata matamu hampir sama dengan mataku. Sama-sama terlihat jelas matamu juga telah meneteskan air mata yang mungkin jumlahnya sama denganku. Memang belakangan ini keseriusanmu terhadap hubungan ini mulai nampak. Tapi tak bisa kah kamu menetap saja di kota ini? Bersamaku. Bersama semua rencana indahku untukmu?

Malam sudah mulai larut, aku menyuruhmu untuk pulang. Tapi kamu belum juga pulang. Kamu masih berada di tempat itu. Depan gerbang rumahku. Kita tak berkata apa-apa. Hanya mata ini yang berbicara. Mataku menahanmu untuk pergi, sedangkan matamu berkata aku harus kuat, jangan menangis. Ini terlihat sangat sangat lucu. Untungnya tak ada satupun orang lewat di depan rumahku waktu itu.

Aku mencoba untuk tersenyum. Dan kemudian kamu pamit untuk pulang. Ternyata kamu ingin melihat senyumku. Sesungguhnya itu senyum yang sangat susah untuk ku kembangkan. Malam itu pun berakhir setelah kau pulang. Aku pun lari menuju kamar tidurku. Ku dengar suara motormu yang sangat khas di telingaku, dan tidak lama kemudian bunyi itu pun menghilang.

Sekarang kamu sedang berlibur. Aku di sini berusaha sesabar mungkin menunggumu. Sekali lagi berusaha sabar menunggumu. Sesungguhnya semua ini tidak mudah. Tapi demi hubungan ini, aku harus menjalainya dengan sepenuh hati, sepenuh jiwa. Aku selalu sedih jika membaca pesan singkatmu yang mengatakan kalau kau rindu padaku. Kenapa aku mulai merasakan keseriusanmu ketika kamu tak berada di sini? Apakah ini hanyalah candaanmu saja? Tapi tidak, aku yakin kau serius dengan hubungan yang telah 58 bulan kita jalani ini.

Seminggu berlalu. Pertemuan itu. Aku merindukanmu sayang. Cepatlah pulang~


Tidak ada komentar: