Sejujurnya aku bingung akan dirimu yang sebenarnya. Tak terduga.
Aku
bersyukur, aku bertemu dengan manusia baik sepertimu. Aku kira kamulah pelangi
yang muncul setelah turunnya hujan. Begitu baik, begitu manis.
Mungkin
aku hanyalah manusia bodoh di matamu. Aku tak punya sedikitpun kelebihan yang
bisa engkau andalkan seperti orang-orang lainnya yang juga berada dekat denganmu. Aku hanyalah manusia yang
selalu membuatmu menunggu di tengah terik matahari dan di tengah dinginnya
malam. Menunggu hal yang sama sekali tidak penting untukmu.
Kini
aku telah sadar, setelah jarak memangkas diri. Engkau yang dulunya sangat baik,
sangat tegas, sangat sopan, sangat santun, sangat dikagumi, sangat cerdas, dan
segala-galanya . Kini telah muncul dengan tampilan baru.
Aku
kira, dengan jarak yang telah memangkas dirinya. Kita semakin membaik. Ternyata
tidak. Mungkin itu hal yang mustahil terjadi saat ini. Kita yang dulu begitu
dekat, begitu kompak. Kini seperti tak saling kenal.
Mungkin
engkau malu dekat denganku yang tidak bisa melakukan apa-apa. Yang sangat mudah
meneteskan air mata. Yang punya banyak keterbatasan. Tapi aku yakin kamu tahu,
jika semua manusia yang tercipta pasti punya keterbatasan. Aku tahu, aku tidak
sendiri di dunia ini jika tanpamu.
Aku
selalu iri dengan mereka yang berjalan beramai-ramai. Kini aku selalu merasa
sepi dalam keramaian. Merasa sedih dalam tawa. Merasa marah dalam bahagia.
Kamu merasa bangga berada di sekililing orang-orang hebat. Kamu tampak sangat bahagia. Namun hal itu sangat berbeda jika kamu berada di dekatku. Aku hanya dapat mendengar marahmu, keluhanmu, kata-kata kasarmu yang kau anggap candaan, dan permintaan tolong darimu. Iya, kamu mencariku hanya ketika kamu membutuhkanku. Kamu mencariku hanya jika kamu sedang sedih. Kamu mencariku hanya jika kamu tidak menemukan mereka yang kamu selalu banggakan.
Kamu
yang saat ini berubah. Kamu yang saat ini menampakkan dirimu yang sebenarnya.
Aku senang saat ini kamu bisa menjalani hari-harimu tanpa beban, tanpa adegan
ackting, tanpa sikap dan kata yang dibuat-buat agar tampak lembut. Tanpa topengmu.
Kini aku tahu kamu yang sesungguhnya. Namun, aku sadar. Bukan hanya aku yang menyadari hal itu. Ketika mendapat ungkapan jujur dari seseorang yang juga kaget akan sikapmu yang saat ini. Dia juga kaget katanya. Dia juga tidak menyangka. Dia juga risih. Dia juga tak suka.
Tapi, aku heran. Dia yang berkata seperti itu, masih bisa bertingkah manis di depanmu. Apakah dia juga mempunyai topeng sepertimu? Mungkin dia telah lama mengikuti kelas teater. Mungkin ia telah lama mengikuti latihan drama, mungkin dia bercita-cita menjadi pemain film. Aku cukup takjub dengan acktingnya.
Tapi aku? Aku bisa berkata sedang ackting. Tapi semua itu sesuai isi hatiku. Bukan sesuai naskah yang menghasilkan cerita indah kehidupan seperti yang kalian punya.
Aku hanya bisa diam. Menanti dirimu sadar. Semua yang engkau anggap candaan, mungkin saja bisa menggoreskan luka di hati orang lain :')
Tidak ada komentar:
Posting Komentar